This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

02 December 2011

Wirausaha Ekonomi Kreatif Bakal "Booming"

KOMPAS.com - Indonesia akan terus bangkit dengan sentuhan tangan individual, melalui entrepreneurship, dan bukan konglomerasi. Tingkat kreativitas orang Indonesia yang tinggi menjadi modal utamanya. Anak-anak muda menjadi daya dorongnya. Demikian kata Christovita Wiloto, pendiri dan chairman Indonesia Young Entrepreneur (IYE) dalam sebuah diskusi seputar entrepreneurship di Jakarta, Rabu (30/11/2011).

Diskusi yang menghadirkan pengusaha muda dan sukses dari berbagai bidang, termasuk fashion dan olahraga, juga mendatangkan Dr A Prasetyantoko, ekonom Partner Strategic Indonesia. Prasetyantoko memberikan gambaran sekaligus solusi untuk entrepreneur dalam menghadapi peta ekonomi CHINDONESIA (China, India, dan Indonesia).

China, India, dan Indonesia diperkirakan menjadi raksasa ekonomi yang bakal menyelamatkan negara-negara maju dari krisis finansial, kata Prasetyantoko.

Indonesia juga punya potensi yang sama kuatnya. Sejumlah faktor turut memengaruhi, potensi sumber daya manusia, kreativitas tanpa batas yang semakin teruji di tengah keterbatasan yang dimiliki, kebutuhan domestik juga tinggi dengan banyaknya populasi, dan kelas menengah yang terus bertumbuh termasuk peningkatan daya beli.

Anda pun dapat menjadi bagian dari kekuatan entrepreneurship, dengan berwirausaha. Apalagi ditegaskan oleh Wiloto, "Entrepreneurship dapat dipelajari siapa saja, dan bukan merupakan keturunan."

Jika Anda punya hasrat besar membangun usaha, namun masih memilah sektor yang paling baik, penjelasan dari Prasetyantoko ini dapat menjadi sumber inspirasinya. Ia mengatakan, ekonomi kreatif akan booming tahun depan. Sektor inilah yang dapat menjadi pilihan jika Anda ingin sukses mengembangkan bisnis. 

Lantas ekonomi kreatif seperti apa yang menjanjikan? Prasetyantoko mengelaborasi, kembangkan sektor ekonomi kreatif dengan fokus pada permintaan domestik. Pertumbuhan permintaan domestik di Indonesia lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi secara makro.

"Sektor berbasis permintaan domestik seperti makanan, minuman, dan pakaian merupakan motor perekonomian di Indonesia. Sektor inilah yang menjanjikan," katanya.

Untuk mengembangkan bisnis di sektor ekonomi kreatif, ada tiga unsur yang harus digabungkan, kata Prasetyantoko. Wawasan, jaringan, dan teknologi memengaruhi kesuksesan bisnis di bidang kreatif.

Menurut Prasetyantoko, ada 14 subsektor ekonomi kreatif yang menjanjikan dan booming di tahun mendatang. Fashion dan kerajinan adalah subsektor bisnis yang paling dominan. Bisnis kreatif yang juga potensial di antaranya percetakan, event organizer, konsultan, dan lainnya. Prinsipnya, jalankan bisnis untuk memenuhi ragam kebutuhan domestik dengan kelas menengah sebagai sasarannya.

"Kelas menengah di Indonesia mengonsumsi semua kebutuhan," kata Prasetyantoko, menambahkan kelas menengah di Indonesia merupakan pasar potensial bisnis dari sektor ekonomi kreatif.

13 October 2011

Biopelet, Alternatif Pemanfaatan Biomassa Temuan IPB

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Peneliti Surfactant & Bioenergy Research Center Institut Pertanian Bogor (SBRC-IPB) Sri Windarwati memperkenalkan biopelet, yakni jenis bahan bakar padat berbasis limbah sebagai alternatif energi pemanfaatan biomassa.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Humas IPB di Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/9), disebutkan bahwa Sri Windarwati mengangkat tema itu pada seminar nasional teknologi kimia aplikatif.

Pada seminar bertema 'Bahan Bakar Nabati Atasi Kelangkaan Minyak Bumi' yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Kimia (IMAKAHI) IPB pada Minggu (18/9), yang dihadiri lebih dari 400 peserta, ia mengemukakan bahwa biopelet adalah jenis bahan bakar padat berbasis limbah biomassa yang memiliki ukuran lebih kecil dari briket.

"Proses yang digunakan adalah pengempaan (pressing) dengan suhu dan tekanan tinggi, sehingga membentuk produk yang seragam dengan kapasitas produksi tinggi," katanya menambahkan.

Ia menjelaskan bahwa potensi biomassa atau limbah pertanian Indonesia sangat besar yakni 49,8 ribu Mwe, sedangkan yang dimanfaatkan baru 445 Mwe.

Dikemukakannya bahwa biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan baku biopelet, di antaranya adalah bungkil sawit, sekam padi, batang ubi kayu, tongkol jagung, tempurung kelapa, kulit kacang, kulit kopi dan sebagainya.

"Teknologi biopelet sudah diperkenalkan sejak lama di luar negeri. Pembuatan biopelet diproduksi pertama kali di Swedia pada tahun 80-an. Seiring waktu, dikembangkan perusahaan biopelet di sana. Sedangkan teknologi ini baru dikembangkan di Indonesia," katanya menambahkan.

Sementara itu, staf ahli Kementerian Negara Riset dan Teknologi Agus Rusiana Hotman mengatakan bahwa jumlah produksi minyak bumi terbatas, sementara tiap tahun konsumsinya meningkat tujuh persen, sehingga dibutuhkan berbagai alternatif energi untuk masa depan.

Sukabumi

"Strategi pengembangan energi nasional ke depan dengan meningkatkan kegiatan diversifikasi energi, di antaranya memanfaatkan potensi sumber biomassa," katanya.

Menurut dia, tantangan pengembangan bahan bakar nabati masih belum kompetitif dibanding dengan bahan bakar minyak (BBM), dikarenakan masih adanya subsidi BBM. "Kemungkinan solusinya adalah meningkatkan efisiensi dalam proses pembuatan BBN sambil menata kebijakan 'pricing' dan subsidi yang lebih tepat sasaran," demikian Agus Rusiana Hotman.

sukabumi

Ini Dia, Biotoilet Karya Mahasiswa IPB untuk Daerah Bencana

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Mahasiswa Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor melalui serangkaian penelitian berhasil menemukan biotoilet yang bisa dimanfaatkan untuk daerah bencana seperti tempat pengungsian.

Humas IPB Ir Henny Windarti, M.Si dalam penjelasan di Bogor, Selasa, mengatakan, mahasiswa tersebut adalah Fauziah Nur Annisa, Septian Suhandono dan Yani Mulyani. Ia menjelaskan penelitian inovatif mahasiswa itu diberi judul "Biotoilet berbasis sekam padi dan alkohol hasil fermentasi limbah agar-agar (Gracillaria sp.) sebagai solusi kelangkaan air bersih di daerah pengungsian".

"Inovasi tersebut juga berhasil meraih juara I Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan ( FTSL) di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada April 2011," katanya. Menurut Fauziah Nur Annisa, biotoilet merupakan alternatif baru karena toilet ini tidak memerlukan air yang banyak seperti toilet pada umumnya.

Biotoilet menggunakan bahan baku lokal yang bernilai limbah seperti limbah hasil pengolahan agar-agar dan sekam padi. "Biotoilet ini pun cocok dibuat pada keadaan darurat dan tempat krisis air seperti pada tempat-tempat pengungsian karena tidak mencemari lingkungan, dan mencegah timbulnya penyakit akibat sanitasi buruk yang biasanya dijumpai pada tempat-tempat pengungsian," kata koordinator kegiatan "Indonesian Climate Student Forum" itu.

Ia menjelaskan, kebutuhan padi sebagai makanan pokok bangsa Indonesia meningkat dari tahun ke tahun sehingga mengakibatkan limbah sekam yang dihasilkan makin melimpah.

Jumlah sekam bervariasi tergantung pada kondisi penggilingan padi. Dari penggilingan padi dapat dihasilkan 65 persen beras, 20 persen sekam, dan sisanya hilang. Sedangkan dalam sekam sendiri mengandung senyawa organik berupa lignin dan chetin, selulosa, hemiselulossa (pentosan), senyawa nitrogen, lipida, vitamin B, asam organik, dan lainnya.

Dalam sekam padi terdapat 34,34-43,80 persen selulosa yang memiliki sifat di antaranya luas permukaan dan porositas tinggi (85 - 90 persen ruang udara) yang mampu menahan air sebesar 35 - 40 persen.

Dengan jumlah yang cukup banyak ini, selulosa dapat menjadi terobosan alternatif sebagai bahan untuk menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran pada konsep kerja biotoilet.

Selain itu basis dari biotoilet adalah alkohol hasil fermentasi limbah agar-agar. Limbah industri agar-agar (Gracillaria sp.) merupakan salah satu sumber bahan baku industri kertas yang potensial.

Selain itu, toilet kering ini tidak menebarkan bau layaknya "septic tank" biasa, serta tidak memerlukan saluran pembuangan khusus. Bioteilet cocok jika diaplikasikan pada daerah bencana yakni tempat-tempat pengungsian yang sifatnya darurat dan sementara.

Ia menambahkan, biotoilet dirancang khusus sehingga tidak menimbulkan pencemaran karena kotorannya ditampung ke dalam "dry box" yang terbuat dari baja dan lapisan "stainless steel" yang cukup tebal.

Dikemukakannya, "dry box" itu diisi juga dengan sekam padi yang berfungsi untuk menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran. Kotoran langsung ditangkap sekam padi di "dry box" (kotak reaktor) yang berada di bawah lubang toilet. "Limbah secara alami terurai menjadi CO2 dan H2O dan tidak memerlukan bakteri khusus, juga tidak menimbulkan bau," katanya.

20 August 2011

Menjelang Lebaran Jaringan Telekomunikasi Disiapkan

INILAH.COM, Bandung - Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Tifatul Sembiring enggan kena semprot Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait layanan jaringan telekomunikasi.

Karena itu, sudah sejak sebulan lalu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) sudah menggelar pertemuan dengan pemangku kebijakan soal ketersediaan jaringan selama Lebaran 2011.

“Kita kerja sama dengan Kementerian Perhubungan, Mabes Polri, dan PU (Pekerjaan Umum). Sejak sebelum Ramadan, kita sudah menggelar coffee morning dengan seluruh operator, televisi, dan komunikasi agar mendirikan posko di daerah yang padat mudik. Ada kesimpulan, secara jaringan kita sudah siap,” kilah Tifatul kepada wartawan di sela-sela peresmian dan peluncuran MPLIK di Gedung Sate, Jalan Diponegoro Kota Bandung, Senin (8/8/2011).

Selama mudik, lanjut Tifatul, broadband di daerah tujuan mudik akan padat sehingga kapasitas jaringannya terbatas. Untuk mengantisipasinya, Kemkominfo menggelar sosialisasi agar masyarakat pintar-pintar memanfaatkan keterbatasan jaringan itu.

“Kita menghitung, pemudik di Indonesia mencapai 17,5 juta orang. Karena itu pelayanan komunikasi jangan sampai shutdown sehingga ada program juga. Kita imbau kepada para pengguna, kalau telepon lagi sibuk, gunakan SMS saja. SMS kan bandwitched-nya lebih sedikit,” jelasnya.

Tifatul memaklumi pemudik akan langsung memanfaatkan komunikasi setibanya di lokasi mudik. Karena itu sebisa mungkin jaringan yang tersedia itu dimanfaatkan secara cerdas.

“Biasanya orang kan begitu sampai, langsung kangen-kangenaan. Telepon-teleponan. Silakan, tetapi pintar-pintar saja. Kalau secara sistem sih sudah siap,” ucapnya. [gin]

04 August 2011

Wow...Bumi Ternyata Pernah Miliki Dua Bulan

WASHINGTON - Bumi pernah memiliki dua bulan. Menurut para astronom, bulan yang lebih kecil menabrak yang lain, sehingga dalam bulan yang ada sekarang terlihat semacam "gambar bekas percikan besar."

Para astronom mencoba mengorek hal ini untuk menjelaskan mengapa sisi jauh bulan yang jauh lebih berbukit dari salah satu yang selalu menghadap Bumi.

Teori ini, yang diuraikan dalam jurnal Nature, dilengkapi dengan model komputer yang menunjukkan bagaimana hal itu mungkin terjadi dan ilustrasi yang menggambarkan bulan seperti "mendapatkan kue di wajahnya".

Para ahli di luar mengatakan, gagasan itu masuk akal, tetapi mereka tidak sepenuhnya mengakui teori ini.

Menurut Erik Asphaug, astronom di University of California, Santa Cruz, menyatakan, bumi berbulan dua terjadi pada sekitar 4,4 miliar tahun lalu, jauh sebelum ada kehidupan di bumi. Bulan-bulan itu sendiri masih muda, terbentuk sekitar 100 juta tahun yang lalu ketika sebuah planet raksasa menabrak bumi. Mereka berdua mengorbit bumi, dalam garis edar sama, satu di depan, satu di belakang.

Yang lebih kecil adalah planet yang ringan. Yang lainnya adalah tiga kali lebih luas dan 25 kali lebih berat, gravitasi begitu kuat sehingga yang lebih kecil tidak bisa menolak, meskipun saat itu lokasinya lebih jauh.

"Mereka kemudian berbenturan. Percikan besar (yang sekarang ada) adalah hasil tabrakan kecepatan rendah," kata rekan penulis studi Asphaug.

Apa yang Asphaug sebut sebagai 'kecelakaan kecepatan rendah' adalah tabrakan pada kecepatan 5.000 mil perjam. Tapi untuk ukuran angkasa luar cukup lambat, karena tidak sampai mengakibatkan bebatuan mencair.

Batu-batu dan kerak dari bulan yang lebih kecil akan menyebar atas dan di sekitar bulan yang lebih besar tanpa membuat kawah, seperti halnya jika tabrakan terjadi dengan kecepatan tinggi.

Martin Jutzi dari University of Bern di Swiss mengatakan bahwa penelitian itu merupakan upaya untuk menjelaskan kerak aneh dan daerah pegunungan dari sisi jauh bulan. Asphaug melihat itu tampak seolah-olah sesuatu telah ditambahkan ke permukaan.

Bumi selalu menjadi eksentrik dalam sistem tata surya sebagai satu-satunya planet dengan bulan tunggal. Sementara Venus dan Merkurius tidak memiliki bulan, Mars memiliki dua, sementara Saturnus dan Jupiter memiliki masing-masing lebih dari 60. Bahkan Pluto yang kecil, yang kini dianggap bukan planet, memiliki empat bulan.

Teori ini diungkapkan juga dalam konferensi ilmuwan yang bekerja pada misi robot NASA ke bulan, kata Jay Melosh dari Purdue University.

"Kita tidak bisa menemukan sesuatu yang salah dengan itu," kata Melosh. "Ini mungkin benar atau mungkin tidak benar."

Alan Stern, mantan administrator NASA mengatakan itu adalah "ide baru yang sangat pintar," tapi juga tidak mudah untuk menguji apakah hal itu benar.

Sumber Republika